MURKANYA TUHAN PEMILIK KA'BAH



Oleh: Ustadz Tito Irawan, S.Ag

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5) 
Apakah engkau tidak memperhatikan Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Ia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia. Ia mengirim kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. Lalu ia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Q.s. Al-Fil: 1-5.

TAFSIR MUFRADAT:
الكيد adalah kehendak menimpakkan kecelakaan kepada yang lain dengan cara tersembunyi. Al-Maraghi, XXX: 241

أبابيل merupakan bentuk jamak dari أبيل yang artinya kelompok unta. Disebut ababil karena bagaikan sekawanan unta. Ar-Raghib: 3

سجيل adalah batu yang bercampur tanah, berasal dari bahasa farsi yang diarabkan. Ar-Raghib: 230

TAFSIR AYAT:
Peristiwa “gajah” merupakan satu peristiwa yang sudah masyhur di kalangan bangsa Arab, sampai mereka menjadikannya awal penanggalan waktu dan kejadian. Mereka suka mengatakan, “Ia dilahirkan pada tahun gajah, peristiwa itu terjadi dua tahun setelah tahun gajah, dan seterusnya.”

Para ulama ahli tafsir berkata, “Diriwayatkan bahwasanya Abrahah Al-Asyran penguasa Yaman membangun tempat ibadat di Shan’a, ia hendak memalingkan jamaah haji berkunjung ke sana. Kemudian datanglah seorang laki-laki dari Kinanan buang hajat di sana pada malam hari, lalu melumuri temboknya dengan kotoran untuk menghinakannya. Abrahah pun marah, dan ia bersumpah untuk menghancurkan Ka’bah. Lalu ia menuju Ka’bah dengan jumlah tentara yang besar menunggangi gajah, ia berada paling depan menunggangi gajah yang paling besar. Ketika sampai mendekati Mekah, penduduk Mekah lari ke gunung-gunung karena takut kebengisan mereka. Kemudian Allah swt. mengutus kepada tentara Abrahah sekelompok burung, setiap burung membawa tiga buah batu, satu di paruhnya dan dua di kakinya. Lalu burung-burung itu melempari mereka hingga batu itu menembus kepada sampai duburnya dan melemparinya sampai tubuhnya kering. Dan Allah membinasakan mereka seluruhnya. Dan kisah mereka ini merupakan pelajaran bagi yang mau mengerti.” Al-Qurthubi, XX: 187

Begitulah Allah swt. bila sudah berkehendak. Tentara gajah yang begitu gagah dan bengis, disegani dan ditakuti, binasa oleh selemah-lemahnya makhluk yakni burung yang tidak biasanya membunuh. Dan ini merupakan suatu kehinaan yang menyakitkan.

Penghancuran tentara gajah ini bertepatan dengan tahun dilahirkannya Nabi saw., ini merupakan (rahasia) akan kenabian beliau, ketika datangnya sekelompok burung yang merupakan sesuatu di luar kebiasaan dan seperti mukjizat terdahulu yang pernah diberikan kepada para Nabi as. Al-Bahrul Muhith, VIII: 512

Bangsa Quraisy sudah meyakini bahwa binasanya tentara gajah itu bukan karena kemurkaan Ka’bah dan Hajar Aswad itu sendiri, karena Ka’bah hanyalah sebuah rumah tua yang tidak ada bedanya dengan rumah-rumah lainnya dan Hajar Aswad hanyalah sebuah batu hitam yang tidak ada bedanya dengan batu-batu lainnya, akan tetapi Allah swt. lah sang pemilik-Nya yang murka ketika makhluk-Nya dizalimi.

وَرُوِيَ أَنَّ أَبْرَهَةَ أَخَذَ لِعَبْدِ الْمُطَلِّبِ مِائَتَيْ بَعِيْرٍ فَخَرَجَ إِلَيْهِ فِيْهَا فَعَظَمَ فِي عَيْنَيْهِ وَكَانَ رَجُلاً جَسِيْمًا وَسِيْمًا. وَقِيْلَ: هَذَا سَيِّدُ قُرَيْشٍ وَصَاحِبُ عِيَرٍ مَكَّةَ الَّذِي يُطْعِمُ النَّاسَ فِي السَّهْلِ وَالْوَحْوَشِ فِي رُءُوْسِ الْجِبَالِ، فَلَمَّا ذَكَرَ حَاجَتَهُ قَالَ: سَقَطْتُ مِنْ عَيْنَي جِئْتُ لِأَهْدَمَ الْبَيْتَ الَّذِي هُوَ دِيْنُكَ وَدِيْنُ آبَائِكَ وَشَرَفَكُمْ فِي قَدِيْمِ الدَّهْرِ، فَأَلْهَاكَ عَنْهُ ذُوْدُ أَخْذَلِكَ فَقَالَ: أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ وَلِلْبَيْتِ رَبٌّ سَيَمْنَعُهُ.
Diriwayatkan bahwa Abrahah merampas dua ratus ekor unta milik Abdul Muthalib, maka dengan tegar ia keluar menemui Abrahah. Ia itu seseorang yang gagah dan tegap perawakannya. Dikatakan kepada Abrahah bahwa ini pemimpin Quraisy pelayan ahli Mekah yang memberi makan orang-orang pada waktu senang dan susah di atas-atas bukit. Ketika Abdul Muthalib menceritakan maksudnya (untuk mengambil unta kembali), Abrahah berkata, “Aku heran, Aku datang untuk menghancurkan Ka’bah yang dia itu merupakan (lambang kebesaran) agamamu, agama nenek moyangmu, dan kemuliaan kamu sejak dulu. Tapi mengapa engkau hanya tersibukkan dengan untamu?”. Abdul Muthalib menjawab, “Aku ini hanyalah pemilik unta, sedangkan untuk Baetullah ada pemiliknya yang akan menyelamatkannya.” An-Nasafi, II: 377

Sebelum peristiwa penghancuran tentara gajah pun, suku Quraisy adalah suku yang sangat dihormati oleh kabilah-kabilah Arab lainnya karena kedekatan mereka dengan Ka’bah. Dan setelah Allah swt. membinasakan tentara gajah, mereka lebih disegani dan dihormati lagi.

Dengan adanya peristiwa itu mereka mendapatkan keamanan tidak ada yang berani mengganggu ketika mengadakan perjalanan perdagangan ke negeri Yaman di musim dingin dan ke negeri Syam di musim panas. Dengan adanya jaminan keamanan ini tentu saja perdagangan mereka selalu mendatangkan keuntungan yang besar.

Akan tetapi mereka telah lupa kepada Allah swt. yang memberi rezeki dan keamanan kepada mereka, mereka bukannya beribadat kepada Tuhan pemelihara Ka’bah, tetapi malah menyembah Ka’bah itu sendiri dan membuat patung-patung lain di sekitarnya.

Oleh: Ustadz Faqih Aulia LITKA PC Pemuda Persis Batununggal Kota Bandung.

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan

Lebih baru Lebih lama