TAFSIR AL-QUR’AN SURAT ALI IMRAN [3]
AYAT 26-27
A. TAFSIR IBNU KATSIR
قُلِ
Katakanlah! (Ali Imran: 26) hai
Muhammad dengan mengagungkan Tuhanmu, bersyukur kepada-Nya, berserah diri
kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.
اللَّهُمَّ مالِكَ الْمُلْكِ
Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan.
(Ali Imran: 26) Yakni semua kerajaan adalah milik-Mu.
تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشاءُ وَتَنْزِعُ
الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشاءُ
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau
kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. (Ali Imran: 26)
Artinya,
Engkaulah Yang memberi dan Engkaulah Yang mencegah. Semua apa yang Engkau kehendaki
pasti terjadi, dan semua yang tidak Engkau kehendaki pasti tidak akan terjadi.
Di dalam ayat
ini terkandung isyarat dan bimbingan yang menganjurkan untuk mensyukuri nikmat
Allah Swt., ditujukan kepada Rasul-Nya dan umatnya. Karena Allah Swt. mengalihkan
kenabian dari kaum Bani Israil kepada nabi dari kalangan bangsa Arab, yaitu
dari keturunan kabilah Quraisy yang ummi dari Mekah sebagai penutup semua nabi,
serta sebagai utusan Allah kepada segenap manusia dan jin. Allah Swt. telah
menghimpun di dalam dirinya semua kebaikan yang ada pada sebelumnya, dan
menganugerahkan kepadanya beberapa khususiyat yang belum pernah Allah
berikan kepada seorang pun dari kalangan para nabi dan para rasul sebelumnya.
Yang dimaksud ialah dalam hal pengetahuannya mengenai Allah dan syariat yang
diturunkan kepadanya, pengetahuannya tentang hal-hal yang gaib di masa lampau
dan masa mendatang. Allah telah memperlihatkan kepadanya banyak hakikat
akhirat, umatnya menyebar ke segenap pelosok dunia dari timur sampai ke barat,
dan agama serta syariatnya ditampakkan di atas semua agama dan syariat yang
lain. Maka semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepadanya untuk
selama-lamanya sampai hari pembalasan, selama malam dan siang hari masih silih
berganti. Karena itulah Allah Swt. mengatakan dalam
firman-Nya: Katakanlah, "Wahai Tuhan Yang mempunyai
kerajaan." (Ali Imran: 26), hingga akhir ayat.
Yakni Engkaulah
Yang mengatur makhluk-Mu, Yang Maha Melakukan semua apa yang Engkau kehendaki.
Sebagaimana Allah menyanggah orang-orang yang mengakui dirinya dapat mengatur
urusan Allah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
وَقالُوا لَوْلا نُزِّلَ هذَا الْقُرْآنُ
عَلى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
Dan mereka berkata, "Mengapa Al-Qur'an ini tidak
diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif)
ini? (Az-Zukhruf: 31)
Allah
berfirman, menyanggah ucapan mereka
itu, melalui ayat berikut:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat
Tuhanmu? (Az-Zukhruf: 32), hingga akhir ayat.
Dengan kata
lain, Kamilah yang ber-tasarruf dalam semua ciptaan Kami menurut apa yang
Kami kehendaki, tanpa ada seorang pun yang mencegah atau menolak Kami, dan bagi
Kamilah hikmah yang sempurna serta hujah yang benar dalam hal tersebut.
Demikianlah Allah menganugerahkan kenabian kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ
رِسالَتَهُ
Allah lebih
mengetahui di mana Dia
menempatkan tugas kerasulan. (Al-An'am:
124) Allah Swt. telah berfirman:
انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنا بَعْضَهُمْ عَلى
بَعْضٍ
Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari
mereka atas sebagian (yang lain). (Al-Isra: 21), hingga akhir
ayat.
Al-Hafiz ibnu
Asakir meriwayatkan di dalam riwayat hidup Ishaq ibnu Ahmad bagian dari kitab
tarikh tentang Khalifah Al-Mamun, bahwa ia pernah melihat pada salah satu
istana di negeri Rumawi suatu tulisan memakai bahasa Himyariyah. Ketika
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ternyata artinya seperti berikut:
"Dengan nama Allah, tidak sekali-kali malam dan siang silih berganti, dan
tidak pula bintang-bintang beredar pada garis edarnya, melainkan karena
berpindahnya nikmat (karunia) dari suatu kerajaan yang telah sirna kekuasaannya
ke kerajaan yang lain. Sedangkan kerajaan Tuhan yang memiliki Arasy tetap
abadi, tidak akan hilang dan tidak ada yang menyekutuinya."
بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ
Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Mahakuasa atas segala sesuatu. QS. Ali Imran [3]: 26.
تُولِجُ
اللَّيْلَ فِي النَّهارِ وَتُولِجُ النَّهارَ فِي اللَّيْلِ
Engkau memasukkan malam ke dalam siang, dan
Engkau memasukkan siang ke dalam malam. (Ali
Imran: 27) Yakni salah satunya mengambil kelebihan waktu dari yang
lainnya. Maka yang lainnya berkurang hingga keduanya sama panjangnya, lalu yang
lain mengambil dari kelebihan yang ini, hingga keduanya berbeda panjang
masanya, tetapi lama-kelamaan panjang masa keduanya menjadi sama kembali.
Demikianlah terjadi dalam musim-musim sepanjang tahunnya, yaitu musim semi,
musim panas, musim gugur,dan musim dingin.
وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan
Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. (Ali Imran:
27)
Maksudnya, Engkau mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari
bebijian, dan mengeluarkan bebijian dari tumbuh-tumbuhan; buah kurma dari biji
kurma, dan biji kurma dari buah kurma. Orang mukmin dari orang kafir, dan orang
kafir dari orang mukmin. Ayam dari telur, dan telur dari ayam; dan segala
sesuatu mengalami proses seperti ini.
وَتَرْزُقُ مَنْ تَشاءُ بِغَيْرِ حِسابٍ
Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa
perhitungan. (Ali Imran: 27)
Yakni Engkau memberi orang yang Engkau kehendaki harta
benda yang tidak terhitung banyaknya dan sulit untuk ditakar, sedangkan kepada
orang lainnya tidak Engkau berikan hal itu. Hal ini Engkau lakukan berdasarkan
kebijaksanaan, kehendak, dan kemauan-Mu semata.
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ زَكَرِيَّا الْغَلَّابِيُّ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ جسْر بْنِ فَرْقَد،
حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ عَمْرو بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ، عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اسْم
اللهِ الأعْظَمَ الَّذي إذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، فِي هَذِهِ الآيةِ مِنْ آلِ
عِمْرانَ: {قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ [تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ
وَتَنزعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ
تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ] }
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnu Zakaria Al-'Ala-i, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu
Hasan ibnu Farqad, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Umar ibnu Malik,
dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Asma
Allah yang teragung (Ismul A'zam) bila diucapkan dalam doa, niscaya
diperkenankan, berada dalam ayat ini bagian dari surat Ali Imran, yaitu
firman-Nya: "Kalakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau
berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan
dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya engkau Mahakuasa atas segala sesuatu' (Ali
Imran: 26)."
B. TAFSIR AL-MARAGHI
1.
Penafsiran
Kata-Kata Sulit
-
Al-Mulku
الملك:
kekuasaan dan pengatur segala sesuatu.
-
Bi
yadikal-khairu بِيَدِكَ الْخَيْرُ: dengan
kekuasaan-Mu yang tidak bisa ditakar kemampuannya.
-
Al-Khairu
الخير:
hanya Engkaulah yang bertasyaruf mengenainya.
-
Al-Wulûju
الولوج:
masuk.
-
Al-Ilâju
الإيلاج:
memasukkan, yang dimasukkan bertambahnya waktu siang dibanding malam hari dan
sebaliknya, berdasarkan tempat- tempat terbit dan tenggelamnya matahari di
sebagian besar negara-negara (di dunia ini).
2. Pengertian Umum
Kaum Musyrik Mengingkari Nabi
Membutuhkan Makan dan Kaum Yahudi Mengingkari Nabi Yang Bukan Dari Kalangannya.
Pembicaraan yang lalu adalah
mengenai keadaan Nabi saw. dan orang-orang yang menjadi objek dakwahnya, yang
terdiri dari kaum musyrikin dan Ahlul-Kitab. Kaum musyrik mengingkari kenabian
dari seorang lelaki yang membutuhkan makan dan berjalan-jalan di pasar. Mereka
juga mengingkari nabi-nabi sebelumnya. Dan kaum Ahlul-Kitab mengingkari seorang
nabi yang bukan dari kalangannya sendiri.
Kemudian turunlah ayat ini sebagai
hiburan untuk Nabi saw. dalam menghadapi orang-orang yang tidak percaya.
Sekaligus sebagai peringatan untuk beliau akan kekuasaan Allah yang mampu
menolong agama-Nya dan meluhurkan kalimah-Nya. Seolah-olah Allah swt beragama
Nabi saw., "Andaikata orang-orang yang ingkar tersebut berpaling darimu,
dan mereka tidak bisa disadarkan melalui bukti, sehingga orang-orang yang
musyrik tetap dalam kebodohannya, dan Ahlul-Kitab tetap pada pendiriannya, maka
kamu harus kembali kepada Allah swt. dan berlindung kepada- Nya dengan berdoa
dan memuji-Nya. Engkau harus ingat, bahwa segala sesuatu itu berada dalam
kekuasaan-Nya, Allah berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya."
Al-Wahidiy meriwayatkan sebuah hadis
dari Ibnu Abbas dan Anas ibn Malik, bahwa ketika Rasulullah menaklukkan kota
Mekah, beliau men- janjikan kepada umatnya akan kerajaan Persia dan Rumawi.
Kemudian orang-orang munafik dan Yahudi berkata, "Alangkah jauhnya dari
manakah Muhammad akan mendapatkan kerajaan Persia dan Rumawi, sedang mereka
jauh lebih kuat dan mulia dibandingkan dengan kemenanganmu ini. Tidak cukupkah
bagi Muhammad Mekah dan Madinah, sampai ia hendak menaklukkan Persia dan
Rumawi?" Kemudian Allah menurunkan ayat di atas.
3. Penjelasan
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ
Engkau adalah Tuhan kami, Mahasuci Engkau, bagi-Mu
kekuasaan yang luhur dan berkuasa sepenuhnya dalam mengatur segala urusan dan
menegakkan keseimbangan tatanan umum alam semesta ini. Engkaulah yang
memberikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dari hamba-hamba-Mu.
Adakalanya mengikuti derajat kenabian, seperti yang dialami oleh keluarga Nabi
Ibrahim, dan adakalanya bebas sesuai dengan kebijaksanaan sunah-sunah Allah
yang menuntut ke arah itu, dan meng- ikuti aspek-aspek sosial yang terdiri dari
kabilah dan bangsa-bangsa.
Dan Engkau
mencabut kerajaan dari tangan orang yang Engkau kehendaki dengan berpalingnya
rakyat dari jalan yang wajar, dan mengganti- nya dengan orang yang bisa
memelihara kelestarian kerajaan, yaitu jalan keadilan, kebaikan dalam mengatur
politik dan menyisipkan kekuatan semaksimal mungkin. Hal itu sebagaimana Allah
mencabutnya dari Bani Israil dan lainnya lantaran kezaliman dan kerusakan
mereka sendiri.
وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ
تَشَاءُ
Kemuliaan itu banyak pengaruhnya, sama dengan kerendahan/
kehinaan. Orang yang mulia sudah tentu kata-katanya dituruti, banyak
pengikutnya dan dapat menguasai hati orang banyak dengan kedudukan atau ilmunya
yang bermanfaat bagi umat manusia. Apalagi disertai sifat dermawan, pemurah,
dan berbuat baik kepada sesama makhluk.
Sedangkan orang
hina ia rela dengan kehinaan dan kerendahan, lemah dan tidak bisa melindungi
kehormatannya serta tidak kuasa menangkal serangan musuh. Tidak ada kemuliaan
yang lebih agung dibanding kemuliaan bermasyarakat dan saling menolong, guna
menyebarkan kebenaran dan melawan kebatilan. Bila seluruh anggota masyarakat
berjalan pada garis-garis sunah yang telah digariskan oleh Allah untuk
hamba-hamba-Nya, maka mereka akan memperhitungkan setiap ucapan. Banyak sedikitnya
umat tidak bisa dijadikan ukuran dalam membentuk kemuliaan dan menghimpun
kekuatan.
Sebab kaum musyrikin Mekah, Yahudi dan Munafikin Arab di
Madinah terlena dengan banyaknya jumlah mereka dalam menghadapi Nabi Muhammad
saw. dan kaum mukmin. Tetapi hal itu sedikit pun tidak ber- manfaat bagi
mereka, sebagaimana firman Allah berikut ini:
ولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَقُولُونَ
لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الاَعـ وَلَكِنَّ
الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
"Mereka berkata, 'Sungguh, jika kita kembali ke
Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik), pastilah orang yang kuat akan
mengusir orang- orang yang lemah dari sana'. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi
Allah, rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu
tidak mengetahui." (Al-Munafiqün/63: 8)
Bukti nyata
adalah dalil yang menunjukkan kebenaran hal ini. Lihatlah bangsa-bangsa Timur,
sekalipun jumlah mereka banyak, tetapi dengan sa- ngat mudah bisa dikuasai
bangsa Barat, meski jumlah mereka relatif sedikit. Hal itu bisa terjadi karena
akibat meratanya kebodohan, terpecahnya kalimat dan merasa rendah diri dalam
melawan penjajah. Bahkan ada se bagian mereka yang berkompromi dengan penjajah
ketika ada sebagian mereka yang bertekad melawan penjajah dan kezalimannya yang
selama ini menginjak-injak bangsa dan tanah air.
بِيَدِكَ الْخَيْرُ
Semua kebaikan berada di atas kekuasaan-Mu, Engkau
bertindak sendirian sesuai kehendak-Mu, tak ada satu pun yang menguasai Engkau.
Di sini kebaikan disebut secara khusus, tetapi pada dasarnya kebaikan dan
keburukan berada dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya:
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْ قَدِيرٌ
Sebab yang sesuai dengan konteks ini adalah menyebutkan
kebaikan saja. Karena sesungguhnya manusia yang ingkar itu tidak dapat membujuk
dan menghina dakwah nabi hanya karena kefakiran dari juru dakwah, kelemahan
para pengikutnya dan sedikitnya jumlah mereka. Karena itu Allah memerintahkan
agar berlindung kepada yang memiliki kerajaan (Allah). Allah mengingatkan bahwa
semua kebaikan berada dalam kekuasaan-Nya. Tidaklah sulit bagi Allah memberikan
kekuasaan sesuai dengan apa yang telah dijanjikan untuk mereka. Allah akan
mendatangkan kebaikan kepada mereka. Hal itu sedikit pun tidak terlintas dalam
benak orang- orang yang menganggap mereka lemah, seperti telah difirmankan oleh-Nya:
وَيُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ
اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ
الْوَارِثِينَ
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang
yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan
men- jadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)." (Al-Qaşaş/28: 5)
تُولِجُ الَّيْلَ
فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي الَّيْلِ
Sesungguhnya, Engkaulah yang memasukkan sebagian dari
waktu malam ke dalam siang, sehingga siang bertambah panjang. Engkaulah yang
memasukkan sebagian waktu siang ke dalam malam, sehingga menjadi panjanglah
malam lantaran siang diperpendek waktunya.
Kesimpulan, sesungguhnya hikmah-Mulah yang mengatur
penciptaan bumi dalam bentuk bulat ini, dan yang menjadikan matahari dalam tatanan
yang khusus. Salah satu di antara malam dan siang diperpanjang waktunya, yang
menyebabkan menyusutnya waktu lainnya.
Semua itu bukanlah sesuatu yang sulit setelah Engkau
memberikan kenabian dan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, seperti
terhadap Muhammad dan umatnya, yang tatkala itu adalah orang-orang Arab. Tidak
sulit pula bagi-Mu mencabut kenabian dan kerajaan dari ta- ngan orang-orang
yang Engkau kehendaki, seperti Bani Israil.
Perumpamaan tasarruf-Mu
dalam mengatur urusan-urusan umat manusia tiada lain bagai tasarruf-Mu
dalam mengatur malam dan siang.
وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
Seperti orang pandai yang semula bodoh, dan menjadikan
seorang kafir menjadi beriman (hidup dan mati pengertiannya abstrak/maknawi).
Dan pohon kurma yang berasal dari biji, manusia yang berasal dari air mani,
burung berasal dari telur (hidup dan mati di sini adalah konkrit).
وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ
Seperti menjadikan orang bodoh, padahal semula pandai.
Orang muk- min dijadikan kafir, biji dari pohon kurma dan telur dari burung.
Penelitian Medis; Dalam Air Mani, Telur, dan Biji-bijian
Terkandung Kehidupan
Para ahli kedokteran telah membuktikan bahwa dalam air
mani, telur binatang dan bebijian terkandung kehidupan. Tetapi kehidupan dalam
arti istilah (konteks kedokteran), bukan pengertian kehidupan yang umum,
seperti yang biasa dikatakan oleh wahyu.
Dr. Abdul Aziz Pasha Ismail mengatakan dalam bukunya Al-Islāmu
Wat-Tibbul-Hadis (Islam dan Ilmu Kedokteran Modern), dikatakan dalam
penafsiran ayat ini, contohnya adalah seperti penciptaan hewan dari air mani,
dan air mani dari hewan. Tetapi air mani itu sendiri adalah makhluk hidup.
Karena itu, penafsiran seperti di atas tidaklah tepat untuk mengulas ayat ini.
Dan apabila dikatakan, 'Sesungguhnya makna ayat ini adalah pen- ciptaan Adam
dari tanah, yang maksudnya adalah penciptaan makhluk hidup dari barang mati,
maka inilah makna yang benar. Tetapi pada ha- kikatnya bukanlah itu yang
dimaksud oleh ayat ini. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Sebab ayat ini
menunjukkan akan penciptaan sesuatu yang bersifat biasa terjadi setiap harinya.
Sebagai bukti adalah datangnya ayat tersebut sesudah ayat Tülijul-laila
fin-nahāri wa tūlijun-nahāri fil laîl, dengan pengertian silih berganti, di
mana hal ini menunjukkan sesuatu yang lazim. Maksudnya, Allah memberikan
perumpamaan kepada kita dengan contoh-contoh yang bisa kita saksikan
sehari-hari.
Tafsiran
Mengeluarkan Yang Hidup dari Yang Mati, dan Yang Mati dari Yang Hidup
Tafsir yang sebenarnya mengenai Ikhrajul-hayya
minal-mayyiti (mengeluarkan makhluk yang hidup dari yang mati), seperti
yang terjadi setiap hari, yaitu makhluk hidup dapat tumbuh dengan memakan
barang-barang yang mati. Makhluk yang kecil bisa menjadi besar tubuhnya karena
memakan susu dan lain-lain, sedang makanan itu adalah benda mati. Kiranya tidak
diragukan lagi, bahwa kemampuan mengubah benda mati yang dimakan makhluk hidup
sehingga menjadi unsur dan zat-zat perangsang pertumbuhan badan merupakan tanda
terpenting yang membedakan badan makhluk hidup dengan benda mati.
Para ahli ilmu hewan dalam tulisannya mengatakan, anak
kambing misalnya, memakan tumbuhan kemudian mengunyahnya menjadi darah
dagingnya. Ini merupakan tanda paling penting pembuktian bahwa ia hidup.
Demikian pula anak kecil. Ia menyantap susu yang sifatnya sebagai zat cair
mati, kemudian menyantapnya menjadi kebutuhan tubuhnya yang hidup.
Makna mengeluarkan barang mati dari barang yang hidup,
misalnya kelenjar-kelenjar air susu (bilamana Anda suka, katakanlah daging
hewan dan atau tumbuhan). Pada dasarnya susu berbentuk cairan yang tidak ada
tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Lain halnya dengan air mani, karena di dalam
air mani terdapat makhluk hidup.
Demikian pula makhluk hidup bisa tumbuh dari benda mati,
dan benda mati bisa keluar dari makhluk yang hidup. Hanya Allah-lah yang menge-
tahui makna sebenarnya.
Al-Qur'an telah memakai lafal Al-Hayat (kehidupan)
dalam pengerti- an yang berlawanan dengan Al-Maüt (kematian), baik
kehidupan dalam pengertian abstrak maupun konkrit, atau lafal mati itu berarti
sesuatu yang dapat hidup seperti makhluk hidup atau tidak.
Ibarat ini Yukhrijul-hayya minal-mayyiti (sampai
akhir ayat) adalah contoh nyata yang mengatakan bahwa Allah swt. pemilik
kerajaan, dan Allah memberikan kerajaan kepada orang-orang yang
dikehendaki-Nya. Allah telah mengutus dari bangsa Arab yang ummi seorang
penghulu para rasul. Allah swt. mempersiapkan mereka melalui kemajuan dan
kebebasan berpikir, serta kebulatan tekad, agar menjadi umat terkuat yang siap
menerima agama baru dan menghancurkan perbudakan.
Kemudian dari
puing-puing tatanan perbudakan tersebut, Allah mendirikan menara kemerdekaan,
yang kala itu Bani Israil dan lainnya masih dininabobokkan oleh
belenggu-belenggu taqlid dan rantai-rantai perbudakan dari para raja dan
penguasa.
Pemberian
terhadap orang yang berhak menerimanya, dan pencabutan terhadap orang yang
berhak mengalaminya, tidak lain hanyalah bergantung pada tegaknya sunah yang
menjadi poros dari tatanan yang melahirkan kemampuan kreasi dan penetapan
hukum.
وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Bahwa semua urusan itu berada dalam kekuasaan-Mu. Tak
seorang pun lebih tinggi dari-Mu, lebih-lebih mengawasi-Mu. Engkau Yang Maha
kuasa dalam mencabut kerajaan dari tangan orang-orang 'ajam, kemudian
menghinakan mereka. Kemudian Engkau berikan hal tersebut kepada orang Arab yang
melahirkan kemuliaan untuk mereka. Hal ini amatlah mudah bagi-Mu.
Lafal Al-Hisab dalam Al-Qur'an terdapat tiga pengertian:
1.
Bermakna payah,
seperti dalam ayat di atas.
2. Bermakna bilangan, seperti dalam firman-Nya:
إِنَّمَا يُوَفَى الصَّابِرُونَ
أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Hanya orang-orang yang bersabarlah yang
disempurnakan pahalanya tanpa batas." (Az-Zumar/39:10)
3.
Bermakna
meminta, seperti dalam firman-Nya:
فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah
(untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan." (Şad/38:
39)
Posting Komentar
Terima kasih telah berkomentar, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan