MENJAGA KEHORMATAN ('IFFAH)



AKHLAQ TERPUJI MENJAGA KEHORMATAN (‘IFFAH)

'Iffah, menurut 'urfi (kebiasaan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah) adalah menahan diri dari kelezatan kebinatangan, mengekang hawa nafsu jelek yang dihasilkan oleh syahwat badaniyyah, dan membatasi diri untuk merasa cukup dengan apa-apa yang menegakkan badan dan menjaga kesehatannya, menjauhi berlebihan atau terlalu hemat juga memperhatikan kesederhanaan dalam segala hal.

Dan puncak 'iffah itu berkaitan dengan menahan hati dari syahwat badaniyyah yang berkaitan dengan perut dan farji, dan apa-apa yang diyakini sebagai penyebab timbulnya kezhaliman dan permusuhan. Sempurnanya 'iffah berkaitan dengan menjaga anggota badan.

Dan tidaklah sempurna 'iffah seseorang sehingga dia bisa menjaga tangan, lidah, pendengaran, penglihatan dan farji.

1.       Menjaga kehormatan tangan, yaitu dengan menahannya dari mengambil harta orang lain dengan cara yang bathil dan merampas hak-hak mereka.

·       Allah ta'ala berfirman,

يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَلَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ .

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil. Qs. an-Nisa [4]: 29.

2.     Menjaga kehormatan lidah, yaitu dengan meninggalkan berdusta, ghibah, namimah (mengadu domba), ucapan yang kotor, mencemooh, menghina, mengumpat, mencela dan memanggil dengan gelar yang jelek.

·       Allah ta'ala berfirman,

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ وَلَا تَلْمِرُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ من نِسَاءٍ عَسَى أَن يَكُن خَيْرًا مِنْهُ وَلَا : الاسمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأَوْلَبِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ بعْضُكُم بَعْضًا أَتُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ ) إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran (yang jelek). Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Qs. al-Hujurat [49]: 11-12.

3.     Menjaga kehormatan pendengaran, yaitu dengan tidak mendengarkan yang jelek-jelek, ucapan-ucapan rendah dan menjaga rahasia juga menyembunyikannya.

·       Allah ta'ala berfirman,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغَوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامُ عَلَيْكُمْ لا تبتغى الجهلين.

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." Qs. al-Qashash [28]: 55.

·       Allah ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ.

Dan (orang-orang mukmin itu ialah) orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Qs. al-Mu'minun [23]: 3.

4.     Menjaga kehormatan penglihatan, yaitu dengan menundukkan pandangan dari yang diharamkan dan perhiasan dunia yang melahirkan syahwat yang rendah.

·       Allah ta'ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى هُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَابِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَابِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَا بِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَتُهُنَّ أَوِ التَّبِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا تُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat." Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Qs. an-Nur [24]: 30-31.

5.     Menjaga kehormatan peraba, yaitu dengan menjaga farji dan menjaga kehormatan (nama baik), Lihat, Kitab al-Muamalah, III: 209-212.

·       Allah ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَتُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَبِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لا مَنتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَعُونَ وَالَّذِينَ هُم بِشَهَدَهِمْ قَائِمُونَ.

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Qs. al-Ma'arij [70]: 29-33.

·       Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sesungguhnya seseorang mendatangi penguasa dengan membawa agamanya, lalu dia keluar dengan tidak membawa agamanya." Ditanyakan, "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Beliau menjawab, "Dia mencari keridlaan penguasa tersebut dengan apa-apa yang Allah 'azza wajalla murkai." Lihat, Adab ad-Dunya wa ad-Dien, hal. 272. Ihya Ulum ad-Dien, II: 159.

·        Sebagian ahli hikmah berkata, "Barang siapa menginginkan kemuliaan, maka dia akan menjauhi apa-apa yang diharamkan." Lihat, Adab ad-Dunya wa ad-Dien, hal. 310. (Ust. Hamdan Abu Nabhan, Belajar Meneladani Akhlaq Rasulullah: Seri Akhlaq Terpuji, Bandung: Maktabah Syaqib, Syawal, 1436 H. hlm. 67-74)

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan

Lebih baru Lebih lama