TERPUJINYA AKHLAQ SABAR



AKHLAQ TERPUJI SABAR

Telah berkata Imam ar-Raghib, "Sabar itu adalah menahan diri ketika berada dalam keadaan sempit, dan sabar itu menahan diri sesuai dengan tuntutan akal dan agama (syara') atau (menahan diri) dari apa-apa yang keduanya menuntut untuk menahan diri darinya." Maka sabar itu merupakan lafaz umum dan beda-beda penyebutannya, tergantung perbedaan keadaannya; Jika menahan diri ketika terkena musibah dinamakan sabar, bukan yang lainnya, kebalikannya adalah putus asa, jika dalam peperangan dinamakan keberanian, dan kebalikannya penakut, jika ketika ditimpa sesuatu yang memuakkan dinamakan lapang dada, dan kebalikannya risau, dan jika menahan ucapan dinamakan menjaga rahasia, dan kebalikannya membukakan rahasia. Lihat, Mu'jam Mufradat Alfazh al-Qur'an, hal. 281.

Dan Imam al-Ghazaliy berkata, "Sabar itu adalah ungkapan tentang lebih kuatnya dorongan agama dalam melawan dorongan hawa nafsu." Lihat, Ihya Ulum ad-Dien, IV: 68.

1.        Allah 'azza wajalla berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِقَايَتِنَا يُوقِنُونَ.

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." Qs. as-Sajdah [32]: 24.

2.       Allah ta'ala berfirman,

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

"Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." Qs. an-Nahl [16]: 96.

3.       Allah ta'ala berfirman,

أُولَبِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُم مِّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَهُمْ يُنفِقُونَ.

"Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan." Qs. al-Qashash [28]: 54.

4.      Allah ta'ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَقِّى الصَّبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." Qs. az-Zumar [39]: 10.

5.       Allah ta'ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَلَا تَنزَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ معَ الصَّبِرِينَ.

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Qs. al-Anfal [8]: 46.

6.       Dan Allah mengumpulkan bagi mereka antara beberapa urusan, yang tidak dikumpulkan urusan-urusan tersebut untuk yang lain,

وَلَنَبْلُوَنَكُم بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّبِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أَوْلَابِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." Qs. al-Baqarah [2]: 155-157.

Kemudian, dorongan agama dengan disandarkan kepada dorongan hawa nafsu maka akan terjadi tiga keadaan:

·         Keadaan pertama: Dikalahkannya dorongan hawa nafsu sehingga tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menentang dan akan sampai padanya dengan tetap sabar, maka disinilah letak dikatakannya; "Barang siapa yang sabar maka dia akan berhasil."

·         Keadaan kedua: Menangnya dorongan hawa nafsu dan gugur -secara keseluruhan- segenap penentangan dorongan agama.

·         Keadaan ketiga: Peperangan silih berganti antara dua kekuatan, terkadang dimenangkan oleh dorongan agama dan terkadang dimenangkan oleh dorongan hawa nafsu³, Lihat, Mau'izhat al-Mu'minin, II: 122-123.

Ketahuilah sesungguhnya apa yang menimpa seorang hamba di dalam kehidupan ini tidak akan pernah kosong dari dua perkara, yaitu: apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya dan apa-apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu bahkan dibencinya, dan dia memerlukan kesabaran pada setiap salah satu dari keduanya.

·         Macam yang pertama: Apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsu, yaitu kesehatan, keselamatan, harta, punya kedudukan, banyaknya keluarga, luasnya sebab keduniaan, banyak pengikut, penolong dan semua kelezatan dunia. Dan alangkah butuhnya seorang hamba pada kesabaran atas urusan-urusan tersebut.

Dan makna sabar dalam hal ini ialah tidak cenderung kepada harta, juga tidak melepaskan diri dalam kesombongan dengannya, menjaga hak-hak Allah pada hartanya dengan berinfak, pada badannya dengan memberikan pertolongan untuk sesama makhluk Allah dan pada lisannya dengan selalu berkata jujur, termasuk juga dalam semua yang Allah nikmatkan kepadanya.

Allah ta'ala berfirman,

يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَبِكَ هُمُ الْخَسِرُونَ.

"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." Qs. al-Munafiqun [63]: 9.

Allah ta'ala berfirman,

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تَجَرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَوَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ تَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَرُ.

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang." Qs. an-Nur [24]: 37.

Dan Rasulullah SAW bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ.

"Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar ma'ruf nahyi munkar." Hr. al-Bukhariy, no. 525 dan atrafnya, Muslim, no. 144, at-Tirmidziy, no. 2265, Ibnu Majah, no. 3955 dari Hudzaifah bin al-Yaman RA.

·         Macam yang kedua: Apa-apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan tabiat manusia, urusan ini ada beberapa bagian:

1.        Yang ada kaitannya dengan pilihannya, dan untuk ini ada dua macam:

o   Yang pertama: Sabar dalam ketaatan dan seorang hamba membutuhkan pada kesabaran untuk menunaikan ini, karena padanya ada hal-hal yang harus dijauhi oleh orang yang mengerjakannya, dengan sebab malas seperti dalam shalat, kikir dalam zakat, atau disebabkan keduanya seperti dalam haji dan jihad dan semua itu membutuhkan pada kesabaran.

Allah ta'ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَوَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْتَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

"dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." Qs. Thaha [20]: 132.

Allah ta'ala berfirman,

رَّبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ، هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا.

Rabb langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?. Qs. Maryam [19]: 65.

Dan sabar dalam ta'at kepada-Nya diperlukan pada tiga keadaan: Sebelum melakukan ta'at tersebut, ketika sedang melakukannya dan setelah selesai dari melakukannya.

Yang kedua: Sabar dari kemaksiatan

Allah ta'ala mengumpulkan berbagai macam maksiat dalam firmannya,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَايِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Qs. an-Nahl [16]: 90.

Maka dari itu alangkah perlunya seorang hamba pada kesabaran dari berbagai macam maksiat tersebut, terutama yang mudah dikerjakannya karena sabar darinya lebih berat, sama beratnya sabar dalam maksiat lidah seperti ghibah dan berdusta juga yang lainnya.

2.       Yang kedua yang tidak ada kaitan terjadinya hal tersebut dengan pilihannya, tapi masih bisa mencegahnya. Seperti halnya jika disakiti dengan perbuatan atau ucapan dan diperlakukan jelek terhadap dirinya atau hartanya, maka sabar dalam hal ini dengan tidak membalasnya.

o   Allah ta'ala berfirman,

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا.

"dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." Qs. al-Muzammil [73]: 10.

 

 

o   Allah ta'ala berfirman,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِنَ السَّاجِدِينَ وَاعْبُدْ رَبِّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ.

"Dan Kami sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." Qs. al-Hijr [15]: 97-99.

o   Allah ta'ala berfirman,

وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنافِقِينَ وَدَعْ أَذَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا.

"dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung." Qs. al-Ahzab [33]: 48.

o   Oleh karena itu Allah ta'ala berfirman,

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ، وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّبِرِينَ.

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Qs. an-Nahl [16]: 126.

o    Berkata Abdullah bin Mas'ud, "Nabi SAW pernah membagikan sesuatu sebagaimana beliau membagi, tiba-tiba seorang laki-laki dari Anshar berkata: "Demi Allah, sepertinya pembagian ini tidak untuk mencari ridla Allah." Maka aku pun berkata (dalam hati); "Sungguh aku akan melaporkannya kepada Nabi SAW, lalu aku mendatangi beliau ketika beliau berada bersama para sahabatnya, kemudian aku mengatakannya dengan suara pelan, Nabi SAW pun merasa berat hati hingga wajahnya berubah karena marah, sampai aku berharap jika tadi aku tidak jadi memberitahukan kepada beliau, kemudian beliau bersabda, "Sungguh Musa juga pernah disakiti lebih dari ini namun ia bersabar." Hr. al-Bukhariy Kitab al-Adab, Bab ash-Shabru 'ala al-Adza, no. 6100, dan pada al-Adab al-Mufrad, no. 390 dari Ibnu Mas'ud RA.

o   Rasulullah SAW bersabda, "Inginkah kalian aku tunjukkan kepada akhlak yang mulia di dunia dan akhirat?" Mereka menjawab, "Tentu wahai Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Sambungkanlah silaturahim kepada orang yang memutuskan silaturahim denganmu, berilah orang yang tidak suka memberi kepadamu dan maafkanlah orang yang suka menzhalimimu." Hr. al-Baihaqiy pada Syu'ab al-Iman, no. 8081 dari al-Hasan dari Abi Hurairah RA.

o   Sebagian para sahabat berkata, "Tidaklah kami menganggap keimanan seseorang benar-benar keimanan apabila dia belum sabar ketika disakiti."

3.       Bagian yang ketiga yang tidak bisa ikhtiar padanya karena berada di luar batas kemampuan manusia, seperti musibah-musibah contohnya wafatnya yang dianggap mulya, hancurnya harta, hilangnya kesehatan dengan sakit, butanya mata, rusaknya anggota badan dan semua bentuk ujian. Maka sabar atas hal itu dengan meninggalkan sedih yang keterlaluan, merobek baju, menampar pipi, berlebihan dalam mengeluh, menampakkan kesusahan, merubah kebiasaan dalam berpakaian, tidur dan makan.

Dan tidak keluar dari batas orang-orang sabar sedihnya hati, basahnya mata dengan air mata, karena hal ini merupakan tabi'at manusia, oleh karena itu ketika Ibrahim putra Nabi SAW wafat basahlah kedua mata beliau, lalu hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, "Ini adalah kasih sayang, dan hanyalah Allah menyayangi hamba-hambanya yang memiliki kasih sayang." Bahkan hal itu juga tidak terlepas dari keridlaan-Nya.

Dan sabar itu jika terasa berat atau sulit maka mendapatkannya dapat dihasilkan dengan dipadukan ilmu dan amal. Sungguh telah kita ketahui bahwa sabar itu ungkapan tentang pertarungan antara dorongan agama dengan dorongan hawa nafsu, masing-masing saling bertarung, -maksud kami- salah satunya dapat mengalahkan yang lainnya, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali dengan menguatkan siapa yang kita inginkan untuk menang dan melemahkan yang lain. Maka mestilah kita -dalam hal ini menguatkan dorongan agama dan melemahkan dorongan hawa nafsu. Adapun cara menguatkan dorongan agama bisa dilakukan dengan dua cara:

1)       Mendorongnya (memikirkan) tentang manfa'at-manfa'at yang ditimbulkan dari kesungguh-sungguhan dan (betapa besar) hasilnya di dunia dan akhirat.

2)      Dilawan dorongan hawa nafsu dengan bertahap sehingga pada akhirnya akan terkekanglah segala sifat-sifat buruk yang telah meresap pada dirinya.

Adapun melemahkan dorongan hawa nafsu ialah dengan memutuskan sebab-sebab yang membangkitkannya, seperti menundukkan pandangan dari hal-hal yang dapat menggerakkan hati atau menjauh dari gambar-gambar yang diinginkan dengan keseluruhan. Dan barang siapa yang membiasakan diri untuk menentang hawa nafsu maka dia akan mengalahkannya, jika dia menginginkannya. Ini adalah salah satu cara pengobatan untuk menumbuhkan semua bentuk kesabaran. Lihat, Mauizhat al-Mu'minin, : 123-126.

Berkata Aktsam bin Shaifry, “Barang siapa yang bersabar maka akan berhasil.” Lihat, Adab ad-Dunya wa ad-Dien, hal. 279.

(Ust. Hamdan Abu Nabhan, Belajar Meneladani Akhlaq Rasulullah: Seri Akhlaq Terpuji, Bandung: Maktabah Syaqib, Syawal, 1436 H. hlm. 57-66)

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan

Lebih baru Lebih lama