TERPUJINYA TEPAT JANJI (WAFA)



AKHLAQ TERPUJI TEPAT JANJI (WAFA)

Telah berkata al-Hafizh, "Pokok beragama itu terbatas pada tiga urusan, yaitu: pada ucapan, perbuatan dan niyat, maka beliau (Nabi SAW) mengingatkan bahwa rusaknya ucapan dengan berdusta, rusaknya perbuatan dengan khianat dan rusaknya niyat dengan tidak menepati janji," Lihat, Fath al-Bariy Syarh Shahih al-Bukhariy, 1: 125-126.

1.        Allah tabaraka wata'ala berfirman,

إِنَّ الإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا إلا الْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاهِمْ دَارِمُونَ وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ معْلُومٌ للسَّابِلِ وَالْمَحْرُومِ وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ الَّذِينَ هُم مِنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَوْ أَزْوَاجِهِمْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأَوْلَبِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَننَتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَعُونَ وَالَّذِينَ هُم بِشَهَدَهِمْ قَائِمُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ تُحَافِظُونَ أَوْلَتَبِكَ فِي جَنَّتِ مُكْرَمُونَ.

"Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Bila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan bila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan tidak meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab rabbnya, sesungguhnya terhadap azab rabb mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya), dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barang siapa mencari diluar itu, mereka itulah orang-orang yang melebihi batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya, dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itu dimuliakan di dalam surga." Qs. al-Ma'arij [70]: 19-35.

2.      Allah tabaraka wata'ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُتُ عَلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَنهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا.

"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar." Qs. al-Fath [48]: 10.

3.      Allah tabaraka wata'ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ، وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً.

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji, Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya." Qs. al-Isra [17]: 34.

4.      Nabi SAW bersabda, "Tidaklah sempurna iman orang yang tidak memperhatikan amanah, dan tidak sempurna agama orang yang tidak menepati janjinya." Hr. al-Baihaqly dalam Syu'ab al-Iman, no. 4354 dari Anas bin Malik RA.

Dan menyempurnakan janji itu ada beberapa macam: Lihat, Akhlaq al-Mu’min, hal. 85-86.

1)       Menepati janji terhadap Allah

Diantara menepati janji yang paling tinggi kedudukannya adalah engkau menepati janji terhadap apa-apa yang Allah perintahkan kepadamu. Dan engkau menjadi orang yang menepati janji terhadap Allah, jika terpenuhi tiga urusan: Beriman kepada Allah, ikhlas beramal karena-Nya, mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

·         Allah 'azza wajalla berfirman kepada Bani Israil,

يبَنِي إِسْرَ يلَ اذْكُرُوا نِعْمَنِي الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِنَّني فَأَرْهَبُونِ.

"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya aku penuhi janji-Ku kepadamu, Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut." Qs. al-Baqarah [2]: 40.

·         Allah ta'ala berfirman,

وَمِنْهُم مِّنْ عَهَدَ اللَّهَ لَبِنْ وَاتَنَا مِن فَضْلِهِ، لَتَصْدِّقَنَّ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فلَمَّا اتَنهُم مِّن فَضْلِهِ، تَخِلُوا بِهِ، وَتَوَلُّوا وَهُم مُّعْرِضُونَ فَأَعْقَهُمْ بِفَاقًا فِي قُلُوهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ.

Dan diantara mereka (orang-orang munafik) ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh." Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. Qs. at-Taubah [9]: 75-77.

·         Allah azza wajalla berfirman,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَنبَنِي ءَادَمَ أَن لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ.

"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syetan? Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." Qs. Yasin [36]: 60.

·         Allah azza wajalla berfirman,

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَتَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا.

"Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana." Qs. al-Insan [76]: 7.

·         Allah azza wajalla berfirman,

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَنهَدتُّمْ وَلَا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ.

"Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." Qs. an-Nahl [16]: 91.

Ringkasan menepati janji terhadap Allah: Engkau beriman kepada Allah, ikhlas beramal karena-Nya, mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

2)      Menepati janji terhadap Rasulullah SAW

Menepati janji terhadap Nabi SAW sekarang yaitu dengan mengikuti sunnahnya dan mengamalkannya.

Mari perhatikan menepati janjinya para sahabat Nabi SAW:

·         Suatu hari Jabir bin Abdullah sedang berjalan bersama Nabi SAW, saat itu sayyidina Jabir termasuk orang yang sangat fakir, Nabi SAW bersabda kepadanya, "Wahai Jabir, jika harta dari Bahrain datang maka aku akan memberi bagian untukmu dan aku pasti memberimu segini segini dan segini.." namun harta dari Bahrain belum juga datang, hingga akhirnya Nabi SAW meninggal dunia, lalu datanglah Abu Bakar dan berkata di hadapan orang-orang, "Siapakah yang Rasulullah SAW pernah berjanji atau memiliki utang kepadanya maka silahkan datang kepadaku!"

Jabir mengisahkan, maka aku menghampiri Abu Bakar dan berkata kepadanya, Nabi SAW telah berkata kepadaku, "Wahai Jabir, jika harta dari Bahrain datang maka bagian untukmu segini segini dan segini.." (kata Jabir), maka Abu Bakar mengambil satu cedukan kemudian memberikannya kepadaku lalu aku menghitungnya dan ternyata jumlahnya 500 dirham, ketika aku bermaksud untuk meninggalkan tempat itu, Abu Bakar memanggilku lagi dan berkata, "Tunggu! ambillah dua kali lipat dari itu!," Aku bertanya, "kenapa?" Beliau menjawab, "Karena Rasulullah SAW bersabda kepadamu. "segini segini dan segini." Hr. al-Humaidiy dalam Musnadnya, no. 1233 dari Jabir bin 'Abdillah RA. Jabir bin 'Abdillah bin 'Amr bin Haram as-Sulamiy, beliau salah seorang shahabat yang banyak meriwayatkan hadits; Beliau meriwayatkan sebanyak 1540 hadits, pada shahihain ada 212 hadits, yang disepakati (al-Bukhariy dan Muslim) sebanyak 60 hadits, diriwayatkan al-Bukhariy ada 26 hadits dan oleh Muslim ada 126 hadits, la ikut berperang 19 kali tapi tidak ikut perang Badar dan Uhud. Beliau wafat pada tahun 78 H pada usia 94 tahun, Lihat, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, I: 320, no. 1022, Tahdzib al-Tahdzib, II: 9, no. 911, al-Bidayah wa an-Nihayah, IX: 20.

·         Kita semua mengetahui apa yang terjadi antara Nabi SAW bersama Abu Bakar di tengah-tengah hijrah dengan Suraqah bin Malik. Ketika Nabi SAW bersabda kepada Suraqah, "Pergilah engkau Suraqah dan saya menjanjikan kepadamu perhiasan-perhiasan raja Persia (Kisra)." Hr. al-Qadliy 'lyadi dalam asy-Syifa, I: 674, Ibnu Hajar dalam al-Ishabah, III: 42 dan Ibnu al-Atsir dalam Usdu al-Ghabah, II: 281.

 

 

·         Dan setelah peristiwa itu Suraqah masuk Islam. Ketika Nabi SAW dan Abu Bakar telah meninggal, maka sayyidina 'Umar menjadi khalifah, lalu di taklukkanlah kota Mada'in, dan mereka mendapatkan perhiasan-perhiasan raja Persia (Kisra), disimpanlah harta itu di masjid nabawi sedang 'Umar bin al-Khattab diam disana sambil berkata, "Dimana Suraqah?" Suraqah menjawab, "Ya, wahai Amirul Mukminin," Lalu 'Umar melunasi janji Rasulullah SAW terhadap Suraqah dengan memberinya ...perhiasan raja Persia... saat itu Suraqah merasa terharu menerima perhiasan tersebut dan dia pun menangis, hingga akhirnya mesjidpun dipenuhi isak tangis orang-orang yang menyaksikannya.

3)      Menepati janji terhadap orang lain dalam pergaulan sehari-hari dengan mereka

·         Nabi SAW bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ حَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَخَرَ.

"Ada empat hal, bila semuanya ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafik tulen, dan barang siapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat satu sifat nifak hingga dia meninggalkannya, yaitu: Jika diberi amanah dia khianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru ia curang."

Hr. al-Bukhariy, no. 34, Muslim, no. 58 dari 'Abdullah bin 'Amr RA.

·         Nabi SAW bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ.

"Seorang yang mati syahid akan diampuni segala dosa-dosanya kecuali hutang."

Hr. Muslim, no. 1886, Ahmad, no. 7051 dari 'Abdullah bin 'Amr RA.

·         Nabi SAW bersabda, "Laki-laki mana saja yang menikahi seorang perempuan dengan mahar yang sedikit atau banyak, dan tidak ada niyat pada dirinya untuk menunaikan hak istrinya, maka dia telah menipunya lalu dia meninggal sedangkan dia belum menunaikan hak istrinya itu, maka dia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan seorang pezina. Dan laki-laki mana saja yang berutang dan tidak ada maksud untuk membayar utangnya kepada pemiliknya, maka dia telah menipunya sampai diambil hartanya, lalu dia meninggal dan belum membayar utangnya, maka dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan sebagai pencuri."

Hr. ath-Thabraniy dalam al-Ausath, 1851 dari Maimun al-Kurdiy dari ayahnya. Lihat, Tahdzib al-Tahdzib, VIII: 451, no. 7338.

·         Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Tidaklah aku bermalam sejak 30 tahun kecuali aku beristighfar untuk imam asy-Syafi'iy dan berdo'a untuknya."

·         Dan perhatikanlah muridnya imam Abu Hanifah beliau berkata, "Demi Allah, aku berdo'a untuk Abu Hanifah sebelum aku mendo'akan kedua orarig tuaku dalam shalat." Bentuk menepati janji macam apa ini? Sebelum kedua orang tua!! Dan ini bukanlah hal yang aneh, sungguh dia telah belajar dari gurunya Abu Hanifah. Begitu pula sikap Abu Hanifah terhadap gurunya, dia berkata, "Aku tidak pernah duduk dengan mengarahkan kedua kakiku kearah rumah guruku, Hammad, sebagai bentuk wafa kepadanya, sekalipun diantara rumahku dan rumah beliau ada tujuh gang."

·         Telah datang seseorang kepada Nabi SAW lalu dia berkata, "Wahai Rasulullah, telah meninggal ayah dan ibuku, apakah masih ada ruang untuk aku berbuat baik kepada keduanya setelah mereka meninggal?" Beliau menjawab,

نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوْصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا.

"Ya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janjinya setelah mereka tiada, menyambung silaturahim yang tidak dapat disambungkan kecuali dengan mereka dan memuliakan teman mereka."

Hr. Abu Dawud, no. 5142, Ibnu Majah, no. 3664 dari Abi Usaid, Malik bin Rabi'ah as-Saa'idiy RA. Hadits ini telah lalu.

(Ust. Hamdan Abu Nabhan, Belajar Meneladani Akhlaq Rasulullah: Seri Akhlaq Terpuji, hlm. 49-56)

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan

Lebih baru Lebih lama